Singapura Tawarkan Filipina Bantuan Perangi Militan Pro ISIS


Singapura menawarkan bantuan berupa drone dan fasilitas perang perkotaan lainnya kepada militer Filipina untuk mengusir kelompok militan pro ISIS di Marawi. Perang di kawasan itu telah berlangsung nyaris selama tiga bulan.

Seperti dikutip dari The Straits Times, Rabu (19/7/2017), Menteri Pertahanan Singapura, Ng Eng Hen, mengatakan kepada rekannya, Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana, ia menawarkan bantuan demi meningkatkan kemampuan intelijen, pengawasan, dan pengintaian militer negara itu.

"Kami menyadari bahwa daerah di Marawi dan sekitarnya sangat luas. Ada banyak pulau. Pengawasan menjadi persoalan," kata Ng.

Singapura memiliki dua tipe pesawat tanpa awak, yakni Heron I, yang memiliki jarak tempuh 200 kilometer dan dapat mengudara selama 24 jam. Satu lainnya adalah Hermes 450, yang memiliki jangkauan dan waktu terbang yang lebih pendek.

Selain itu, Ng mengatakan, Singapura juga bersedia membantu melatih pasukan keamanan Filipina terkait dengan perang perkotaan. Singapura juga turut menawarkan pengiriman pesawat C-130 untuk transportasi militer dan mengangkut pasokan kebutuhan bagi pengungsi Marawi.

Filipina mengestimasi, pertempuran di Kota Marawi membuat setidaknya 400 ribu orang mengungsi. Sebagian besar menumpang di rumah kerabat atau teman mereka, dan sekitar 20 ribu lainnya menghuni pusat evakuasi.

Otoritas kesehatan mengatakan, 40 pengungsi meninggal dunia karena diserang penyakit.
Menhan Ng menjelaskan, Singapura dan sejumlah negara lainnya mengikuti perkembangan situasi di Marawi. "Karena kita semua tahu jika situasinya tidak terkendali, atau jika sel teroris atau elemen teroris menguatkan diri di wilayah mana pun di ASEAN, mereka akan melancarkan serangan di kota-kota lain".
Perjuangan pasukan keamanan Filipina untuk menumpas kelompok militan di Marawi telah memasuki minggu kesembilan. Sejauh ini, mereka melancarkan serangan udara, artileri, dan menerjunkan unit pasukan khusus dalam perang perkotaan tersebut. Setidaknya lebih dari 500 orang dilaporkan terbunuh dalam pertempuran itu.

Lebih lanjut, Ng mengungkapkan keprihatinannya menyusul risiko yang berpotensi muncul di sejumlah wilayah di Filipina usai pengepungan di Marawi berakhir.

"Mereka memiliki elemen terkait ISIS, ditambah kelompok ekstremis lainnya. Mereka telah membentuk jaringan dan berniat untuk melanjutkan rencana mengubah Asia Tenggara menjadi serupa Irak dan Suriah," kata Ng.

Tidak dimungkiri, ada kekhawatiran bahwa militan yang melarikan diri dari Marawi dapat pergi ke Malaysia, Indonesia, dan sejumlah negara lain di Asia Tenggara atau justru sebaliknya, pertempuran di Marawi menjadi magnet bagi para anggota militan asing untuk datang ke sana.

Pejabat keamanan Filipina menyebutkan terdapat sekitar 40 militan asing di Marawi di mana kebanyakan dari mereka berasal dari Malaysia dan Indonesia. Dari 276 militan yang terbunuh, setidaknya tiga orang adalah orang Malaysia dan satu lagi berasal dari Indonesia.

Dipicu oleh perang Marawi, Filipina, Indonesia dan Malaysia telah memulai patroli laut bersama demi mengendalikan pergerakan militan di wilayah kepulauan masing-masing negara.
Presiden Rodrigo Duterte sendiri telah meminta Kongres untuk memperpanjang masa darurat militer di Marawi hingga 31 Desember 2017.

Komentar

Postingan Populer